Artikel berikut hanya tersedia dalam Bahasa Indonesia

Dampak Lingkungan & Aksi Iklim: Strategi Net-Zero

02 November 2025 – Article

Written by Maria Rosaline Nindita Radyati, PhD

Share on FacebookShare on TwitterShare on LinkedInShare by emailCopy link

Dampak Lingkungan & Aksi Iklim: Strategi Net-Zero


Mendesaknya isu perubahan iklim telah menempatkan strategi net-zero di pusat agenda keberlanjutan korporasi di seluruh dunia. Perusahaan dari berbagai industri kini diharapkan tidak hanya mengukur jejak lingkungan mereka, tetapi juga berkomitmen pada aksi nyata untuk mengurangi emisi, menghemat sumber daya, dan selaras dengan target iklim global.




1. Pengukuran Jejak Karbon dan Strategi Pengurangan


Langkah pertama menuju net-zero adalah mengukur dan mengelola jejak karbon perusahaan. Ini mencakup emisi langsung (Scope 1), emisi tidak langsung dari energi yang dibeli (Scope 2), serta emisi rantai nilai (Scope 3).


Strategi pengurangan mencakup:

  • Beralih ke sumber energi terbarukan.
  • Elektrifikasi armada dan logistik.
  • Optimalisasi efisiensi produksi untuk mengurangi konsumsi energi.
  • Melibatkan pemasok dan konsumen dalam inisiatif pengurangan emisi.


🔹Contoh Global:Google telah mencapai netralitas karbon sejak 2007 dan menargetkan beroperasi sepenuhnya dengan energi bebas karbon pada 2030, menggunakan efisiensi energi berbasis AI di pusat datanya.


🔹Contoh Indonesia:Telkom Indonesia menerapkan peta jalan pengurangan karbon melalui pembangunan pusat data hijau dan integrasi energi terbarukan untuk mendukung target net-zero Indonesia 2060.




2. Efisiensi Energi, Pengelolaan Limbah, dan Konservasi Air


Selain emisi, strategi net-zero juga mencakup dampak lingkungan yang lebih luas:

  • Efisiensi Energi: Peningkatan fasilitas, penerapan standar bangunan hijau, dan investasi pada sistem energi pintar.
  • Pengelolaan Limbah: Mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular, mengurangi plastik sekali pakai, serta meningkatkan tingkat daur ulang.
  • Konservasi Air: Mengelola risiko kelangkaan air, mengurangi penggunaan, serta memastikan pengolahan limbah cair.


🔹Contoh Global:Toyota berhasil mengurangi intensitas energi produksinya secara global dengan mengadopsi energi terbarukan di pabrik dan investasi pada sistem air tertutup (closed-loop water systems).


🔹Contoh Indonesia:Danone-AQUA mengadopsi strategi kemasan sirkular (botol PET 100% dapat didaur ulang) dan program pengelolaan air, termasuk inisiatif Water Access, Sanitation, and Hygiene (WASH) untuk masyarakat lokal.




3. Science-Based Targets (SBTi) dan Jalur Dekarbonisasi


Mencapai net-zero membutuhkan keselarasan dengan science-based targets (SBTi) yang memastikan pengurangan emisi sejalan dengan upaya membatasi pemanasan global hingga 1,5°C. Perusahaan dapat memilih jalur dekarbonisasi sesuai industrinya:

  • Sektor Energi: Transisi ke energi terbarukan, penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS).
  • Manufaktur: Elektrifikasi, hidrogen hijau, dan ekonomi sirkular.
  • Pertanian & Kehutanan: Pengelolaan lahan berkelanjutan, reforestasi, dan pengurangan metana.


🔹Contoh Global:Microsoft berkomitmen menjadi karbon negatif pada 2030 dan menghapus seluruh jejak emisi historisnya pada 2050, dengan panduan kerangka SBTi.


🔹Contoh Indonesia:Pertamina menargetkan pengurangan emisi GRK sebesar 30% pada 2030 melalui energi terbarukan, penangkapan karbon, dan pengembangan biofuel, selaras dengan Enhanced NDC Indonesia.




Kesimpulan


Strategi net-zero menuntut aksi komprehensif mulai dari pengukuran, efisiensi, hingga komitmen berbasis sains. Dengan menanamkan aksi iklim dalam strategi korporasi, perusahaan dapat memitigasi risiko lingkungan, memperoleh akses ke pembiayaan hijau, serta memperkuat ketangguhan bisnis.


Baik pemimpin global maupun perusahaan Indonesia menunjukkan bahwa mencapai net-zero bukan hanya mungkin, tetapi juga menjadi pendorong daya saing dan inovasi jangka panjang.




Referensi

  • Science Based Targets initiative (SBTi). Foundations for Science-Based Net-Zero Target Setting in the Corporate Sector. SBTi, 2021.
  • Google. Environmental Report 2023. Mountain View: Google LLC, 2023.
  • Microsoft. 2023 Environmental Sustainability Report. Redmond: Microsoft Corporation, 2023.
  • Toyota Motor Corporation. Sustainability Data Book 2023. Tokyo: Toyota, 2023.
  • Danone-AQUA. Sustainability Report 2023. Jakarta: Danone Indonesia, 2023.
  • Pertamina. Sustainability Report 2023. Jakarta: Pertamina, 2023.
  • Telkom Indonesia. Annual & Sustainability Report 2023. Jakarta: Telkom, 2023.
  • United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Paris Agreement. 2015.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Enhanced NDC Indonesia. Jakarta: KLHK, 2022.
Share on FacebookShare on TwitterShare on LinkedInShare by emailCopy link

Related Updates

Tata Kelola ESG: Kepemimpinan dan Akuntabilitas

02 November 2025 – Article

Seiring meningkatnya sorotan dari investor, regulator, dan masyarakat, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi pilar utama kesuksesan korporasi yang berkelanjutan. Tata kelola ESG yang efektif membutuhkan kepemimpinan yang kuat, akuntabilitas yang jelas, dan keterlibatan pemangku kepentingan secara transparan. Dewan direksi dan eksekutif tidak hanya harus mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam strategi, tetapi juga memastikan bahwa etika, kebijakan, dan pengambilan keputusan mencerminkan prioritas keberlanjutan.

Pengantar ESG: Mengapa Penting bagi Dunia Bisnis Saat Ini

02 November 2025 – Article

Dalam satu dekade terakhir, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah bergeser dari isu khusus menjadi prioritas utama bagi perusahaan, investor, regulator, dan komunitas. ESG kini menjadi pusat bagaimana bisnis mengelola risiko, memanfaatkan peluang, dan membangun ketahanan jangka panjang.

Peran Dewan Direksi dalam ESG & Keberlanjutan

02 November 2025 – Article

Dalam lanskap bisnis global yang terus berkembang, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi faktor penentu kesuksesan korporasi. Melampaui kepatuhan, ESG mewakili ketangguhan, inovasi, dan akuntabilitas. Dewan direksi berada di pusat transformasi ini, mengarahkan strategi, memastikan transparansi, dan menjaga penciptaan nilai jangka panjang.