Artikel berikut hanya tersedia dalam Bahasa Indonesia

Pengembangan Strategi ESG: Menyelaraskan Bisnis dan Keberlanjutan

02 November 2025 – Article

Written by Maria Rosaline Nindita Radyati, PhD

Share on FacebookShare on TwitterShare on LinkedInShare by emailCopy link

Pengembangan Strategi ESG: Menyelaraskan Bisnis dan Keberlanjutan


Perubahan global menuju keberlanjutan telah menjadikan Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai pendorong utama daya saing dan ketangguhan perusahaan. ESG kini bukan lagi sekadar kewajiban pelaporan, melainkan bagian inti dari visi korporasi, manajemen risiko, dan kepercayaan pemangku kepentingan. Perusahaan yang mengintegrasikan ESG ke dalam strategi mereka dapat membuka peluang inovasi, memperkuat kepercayaan investor, serta menciptakan nilai jangka panjang bagi bisnis dan masyarakat.




1. Mengintegrasikan ESG ke dalam Visi dan Misi Korporasi


Strategi ESG yang efektif dimulai dengan menanamkan keberlanjutan ke dalam pernyataan visi dan misi perusahaan. Penyelarasan ini memastikan ESG tidak diperlakukan sebagai tambahan, melainkan sebagai inti identitas bisnis.

  • Contoh Global:
    • Unilever mengintegrasikan keberlanjutan langsung ke dalam misinya: “to make sustainable living commonplace”. Strategi Unilever Compass menyelaraskan pertumbuhan dengan aksi iklim, ekonomi sirkular, dan keadilan sosial.
  • Contoh Indonesia:
    • Bank Rakyat Indonesia (BRI) menanamkan keberlanjutan dalam visinya: “The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia & Champion of Financial Inclusion”, dengan keberlanjutan tercermin dalam praktik pembiayaan dan program pengembangan masyarakat.


Menanamkan ESG dalam visi dan misi menyampaikan komitmen jangka panjang yang jelas kepada pemangku kepentingan sekaligus menciptakan keselarasan budaya di seluruh organisasi.




2. Mengidentifikasi Isu ESG Material yang Relevan dengan Organisasi


Strategi ESG yang kokoh memerlukan identifikasi isu material—topik yang paling signifikan bagi bisnis sekaligus pemangku kepentingan. Hal ini dilakukan melalui penilaian materialitas, dengan mempertimbangkan konteks industri, kewajiban regulasi, dan prioritas pemangku kepentingan.

  • Contoh Global:
    • Microsoft mengidentifikasi netralitas karbon, keamanan siber, serta keberagaman & inklusi sebagai isu material. Laporan keberlanjutannya menekankan komitmen net-zero, penggunaan energi terbarukan, dan kesetaraan tenaga kerja.
  • Contoh Indonesia:
    • PT Vale Indonesia Tbk mengidentifikasi dekarbonisasi, transisi energi, perlindungan keanekaragaman hayati, dan pengembangan masyarakat sebagai isu ESG material, selaras dengan target Net Zero Indonesia 2060 dan meraih PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup.


Dengan fokus pada isu material, perusahaan dapat mengarahkan sumber daya ke area dengan dampak dan relevansi terbesar.




3. Menetapkan Tujuan ESG Jangka Pendek dan Panjang


Tujuan yang jelas adalah fondasi strategi ESG. Perusahaan perlu menetapkan tujuan jangka pendek (1–3 tahun) untuk aksi segera, serta tujuan jangka panjang (5–30 tahun) untuk dampak transformatif. Tujuan ini harus terukur, berbatas waktu, dan selaras dengan standar internasional seperti UN SDGs, GRI, dan IFRS S1/S2.

  • Contoh Global:
    • Apple menargetkan rantai pasok netral karbon pada 2030, dengan tonggak jangka pendek seperti peningkatan penggunaan material daur ulang dalam produk dan transisi pemasok ke energi terbarukan.
  • Contoh Indonesia:
    • Pertamina berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 30% pada 2030 sebagai bagian dari jalur net-zero, sekaligus menyiapkan tujuan jangka panjang melalui energi terbarukan, biofuel, dan teknologi penangkapan karbon.


Menetapkan tujuan jangka pendek dan panjang menunjukkan akuntabilitas serta menyediakan peta jalan untuk peningkatan berkelanjutan.




Kesimpulan


Mengembangkan strategi ESG bukan hanya tentang kepatuhan—tetapi tentang menyelaraskan pertumbuhan bisnis dengan kebutuhan keberlanjutan. Dengan menanamkan ESG ke dalam visi dan misi, berfokus pada isu material, serta menetapkan tujuan ambisius namun realistis, dewan dan eksekutif dapat memperkuat ketangguhan, menarik investasi, dan berkontribusi pada keberlanjutan global.


Bagi perusahaan di Indonesia maupun global, ESG bukan sekadar tren; melainkan fondasi penciptaan nilai jangka panjang.




Referensi

  • Unilever. Annual Report and Accounts 2023. London: Unilever PLC, 2023.
  • Bank Rakyat Indonesia. Sustainability Report 2023. Jakarta: BRI, 2023.
  • Microsoft. 2023 Environmental Sustainability Report. Redmond: Microsoft Corporation, 2023.
  • PT Vale Indonesia Tbk. Sustainability Report 2024: Resourcing for a Greener Future. Jakarta: Vale Indonesia, 2024.
  • Apple. 2023 Environmental Progress Report. Cupertino: Apple Inc., 2023.
  • Pertamina. Sustainability Report 2023. Jakarta: Pertamina, 2023.
  • International Sustainability Standards Board (ISSB). IFRS S1 and IFRS S2 Standards. IFRS Foundation, 2023.
  • Global Reporting Initiative (GRI). GRI Standards. Amsterdam: GRI, 2021.
  • United Nations. Sustainable Development Goals (SDGs). New York: UN, 2015.
Share on FacebookShare on TwitterShare on LinkedInShare by emailCopy link

Related Updates

Tata Kelola ESG: Kepemimpinan dan Akuntabilitas

02 November 2025 – Article

Seiring meningkatnya sorotan dari investor, regulator, dan masyarakat, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi pilar utama kesuksesan korporasi yang berkelanjutan. Tata kelola ESG yang efektif membutuhkan kepemimpinan yang kuat, akuntabilitas yang jelas, dan keterlibatan pemangku kepentingan secara transparan. Dewan direksi dan eksekutif tidak hanya harus mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam strategi, tetapi juga memastikan bahwa etika, kebijakan, dan pengambilan keputusan mencerminkan prioritas keberlanjutan.

Pengantar ESG: Mengapa Penting bagi Dunia Bisnis Saat Ini

02 November 2025 – Article

Dalam satu dekade terakhir, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah bergeser dari isu khusus menjadi prioritas utama bagi perusahaan, investor, regulator, dan komunitas. ESG kini menjadi pusat bagaimana bisnis mengelola risiko, memanfaatkan peluang, dan membangun ketahanan jangka panjang.

Peran Dewan Direksi dalam ESG & Keberlanjutan

02 November 2025 – Article

Dalam lanskap bisnis global yang terus berkembang, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi faktor penentu kesuksesan korporasi. Melampaui kepatuhan, ESG mewakili ketangguhan, inovasi, dan akuntabilitas. Dewan direksi berada di pusat transformasi ini, mengarahkan strategi, memastikan transparansi, dan menjaga penciptaan nilai jangka panjang.